Pasang Iklan Gratis

Senjata makan tuan, Arsenal jadi korban ilmu hitam andalan mereka sendiri

  Arsenal bak menjadi korban senjata andalan mereka sendiri ketika diimbangi Brentford.

Laju armada Mikel Arteta di puncak klasemen diperlambat rival sekotanya pada duel penutup pekan ke-26 Liga Inggris.

Bertamu ke markas Brentford, Gtech Community Stadium, Kamis (12/2/2026), Arsenal ditahan seri 1-1.

The Gunners mencetak gol duluan melalui sundulan Noni Madueke yang memanfaatkan crossing Piero Hincapie.

The Bees, julukan tuan rumah, menyamakan skor sepuluh menit kemudian melalui skema yang selama ini jadi andalan Arsenal: set-piece.

Lebih spesifik, gol penyeimbang Keane Lewis-Potter diawali lemparan ke dalam Michael Kayode di sisi kiri serangan.

Lemparan jauh Kayode mengarah ke kerumunan di kotak penalti The Gunners dan ditanduk Sepp van den Berg.

Sundulannya menjadi asis untuk diseruduk Lewis-Potter, yang berhasil mendorong bola ke gawang dengan kepalanya.

Skenario gol itu familier bagi The Gunners. Biasanya mereka yang menyakiti musuh dengan skema bola-bola mati.

Keampuhan anak asuh Arteta memanfaatkan set-piece sangat berperan meroketkan mereka sebagai kandidat juara di semua kompetisi musim ini.

Dari 26 pertandingan Liga Inggris, sudah 17 gol mereka lahirkan dari sepak pojok, tendangan bebas, atau lemparan ke dalam.

Namun, keahlian ini sering dikritik sebagai 'dark arts' atau 'ilmu hitam'. Pasalnya, seringkali gol Arsenal, terutama dari metode sepak pojok, bikin jengkel musuh.

Gabriel Magalhaes dkk kerap memenuhi area kotak penalti lawan dengan dibumbui aksi saling dorong dan membatasi pandangan serta gerak kiper.

Kolumnis ESPN, Gabriel Marcotti, sampai menganggap metode grasah-grusuh seperti itu telah merusak sepak bola.

"Kotak penalti menjadi kumpulan kekacauan para pemain yang saling memegang, menarik baju, dan menggunakan teknik jiu-jitsu untuk mendapatkan keunggulan," tulisnya di laman ESPN.com.

"Pria dewasa yang bergulat, saling menarik, dan mendorong bukanlah bagian dari permainan sepak bola."

"Sungguh, itu bukan bagian dari sepak bola, dan sebenarnya tidak diizinkan pada bagian mana pun di lapangan," lanjutnya.

Saat melawan Brentford, awak Meriam London ibarat merasakan apa yang biasa dialami musuh mereka saat menghadapi set-piece.

Kiper Arsenal, David Raya, bahkan sampai melakukan protes kepada wasit karena merasa ruang geraknya diganggu dengan tarikan maupun dorongan saat menghadapi sepak pojok.

Netizen tak ayal melemparkan reaksi. Sejumlah komentar menyebut Raya dkk kena batunya sendiri dengan menjadi korban dari 'dark arts' yang biasa mereka praktikkan.

"(Mereka) Mendapatkan balasan setimpal," cuit seorang pengguna medsos, seperti dikutip dari The Sun.

"Raya mengeluh soal itu (adalah hal yang) gila," tambah yang lain.

"Kemunafikan yang mencapai puncaknya," susul akun berikutnya.

Biasa bikin kacau pertahanan musuh, Mikel Arteta kini menyebut Brentford telah melakukan kekacauan yang sulit diatasi pasukannya dalam situasi set-piece.

"Jika ingin menang di sini (Brentford), Anda harus benar-benar kejam di kedua kotak penalti," ujar pelatih asal Spanyol itu, dikutip BolaSport.com dari The Guardian.

"Hari ini kami kekurangan hal tersebut. Mereka luar biasa dalam apa yang mereka lakukan."

"Kekacauan di sekitar bola itu sangat, sangat sulit untuk dihentikan," tegas Arteta.

Kegagalan menang di Brentford membuat jarak The Gunners di puncak klasemen Liga Inggris hanya terpaut empat poin dari Man City.

Sementara The Citizens meraih 10 poin dalam empat laga terakhir, Arsenal hanya mendulang tujuh keping.


0 Response to "Senjata makan tuan, Arsenal jadi korban ilmu hitam andalan mereka sendiri"

Posting Komentar