Sikap ulama menimbang perang AS–Israel vs Iran
Di tengah meningkatnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, pernyataan sikap sejumlah ulama Sunni seperti dirilis oleh Presiden IUMS, Prof. Dr. ‘Ali Muhyiddin Al-Qarahdaghi, Liga Ulama Muslim Dunia dan Pernyataan Ulama Umat lintas negara yang digalang oleh Badan Internasional Ansor Nabi, menjadi salah satu respons moral paling penting yang lahir dari dunia Islam.
Pernyataan tersebut tidak sekadar kecaman atau pembelaan terhadap salah satu pihak, melainkan upaya menata ulang cara pandang umat terhadap perang, kekuasaan, dan masa depan kawasan.
Di sinilah letak signifikansinya: ia bukan teks emosional (seperti brodkes sosmed yang mengutip sebagian ahli ilmu yang terus saja mengangkat narasi Syiah bukan Islam, pembantai ahlussunnah di Irak, Yaman dan Suriah bukan syahid atau sebaliknya yang mengglorifikasi Iran dan menguduskan Ali Khamenei sebagai satu-satunya Islam sejati tanpa cela dsb), melainkan teks etis yang mencoba memisahkan antara kemarahan historis, kekecewaan politik, dan pertimbangan maslahat jangka panjang.
Konflik Bukan Sekadar Pertarungan Negara
Framing utama dalam tiga pernyataan sikap ulama itu menempatkan perang bukan sebagai duel dua negara, melainkan bagian dari struktur dominasi yang lebih luas. Serangan terhadap Iran dibaca sebagai bagian dari arsitektur keamanan global yang sejak lama menempatkan kawasan Timur Tengah sebagai ruang eksperimen kekuasaan dan perpanjangan pengaruh.
Namun yang menarik, para ulama tersebut tidak berhenti pada retorika anti-Barat. Mereka juga mengakui bahwa dinamika konflik tidak steril dari kesalahan internal. Kritik terhadap kebijakan ekspansionis sektarian Iran di sejumlah negara Arab (Irak-Yaman-Suriah-Lebanon) tetap ditegaskan. Dengan kata lain, mereka menolak logika hitam-putih: tidak semua yang melawan Israel otomatis benar, dan tidak semua yang dikritik Barat otomatis salah.
Pendekatan ini menunjukkan kedewasaan politik yang jarang muncul dalam diskursus publik kita: konflik dapat dikritik dari dua arah sekaligus tanpa kehilangan konsistensi moral.
Etika Perang dan Garis Merah Kemanusiaan
Poin terpenting dalam pernyataan itu adalah penegasan bahwa darah warga sipil adalah garis merah. Tidak ada pembenaran syar’i untuk penargetan warga sipil, penghancuran fasilitas vital, atau ekspansi kekerasan tanpa batas.
Ini adalah pesan yang sangat penting di era di mana perang sering dibungkus dengan narasi identitas dan simbol agama. Para ulama tersebut mengembalikan persoalan pada maqashid syariah: menjaga jiwa, menjaga martabat manusia, dan mencegah kerusakan yang lebih besar.
Di sini kita melihat bahwa posisi mereka bukanlah “membela Iran” atau “membela Amerika” dengan membabibuta, melainkan membela prinsip bahwa agresi yang memperluas penderitaan rakyat tidak dapat dilegitimasi oleh dendam historis atau kalkulasi politik.
Mengkritik Hegemoni Tanpa Mengabaikan Kekeliruan Internal
Sikap terhadap keberadaan pasukan asing di Teluk juga mendapat sorotan tajam. Keamanan yang bergantung pada pangkalan militer asing dinilai sebagai bentuk ketergantungan struktural yang pada akhirnya mereduksi kedaulatan negara Muslim dan menjadi pembenar serangan Iran ke negara-negara Arab Teluk yang mengijinkan AS bangun pangkalan militer di teritorialnya.
Namun pada saat yang sama, proyek politik Iran yang membangun pengaruh melalui jejaring milisi sektarian juga tidak luput dari kritik. Intervensi kekerasan sektarian yang disponsori Iran di Irak, Suriah, Yaman, dan Lebanon disebut sebagai sumber luka sosial dan demografis yang belum sembuh.
Sehingga wajar kita saksikan luapan kegembiraan warga Suriah yang merayakan kematian Ali Khamenei dan pejabat pertahanan lainnya karena dipandang sebagai pihak yang bertanggung jawab memikul dosa kekerasan sektarian demi mempertahankan rejim Bashar Assad dengan dalih perlawanan terhadap hegemoni Israel. Rakyat yang menentang Assad dicap kafir antek Zionis-Amerika harus dibasmi.
Inilah keseimbangan yang jarang terlihat: menolak dominasi eksternal tanpa menutup mata terhadap kerusakan internal.
Mengapa Ini Penting bagi Palestina?
Pertanyaan paling krusial adalah: apa dampaknya bagi perjuangan Palestina?
Pertama, jika konflik ini berujung pada pelemahan total Iran tanpa restrukturisasi arsitektur keamanan kawasan, maka kemungkinan besar Israel akan menjadi kekuatan militer tunggal yang tak tertandingi di kawasan. Dalam situasi seperti itu, tekanan terhadap Palestina bisa semakin tidak terbendung.
Kedua, jika perang meluas dan kawasan semakin terfragmentasi, isu Palestina berpotensi kembali menjadi kartu tawar-menawar dalam negosiasi geopolitik global. Sejarah menunjukkan bahwa ketika negara-negara Arab dan Muslim sibuk dengan konflik internal, Palestina sering kali menjadi prioritas terakhir.
Ketiga, polarisasi sektarian yang semakin dalam hanya akan menggerus solidaritas lintas mazhab terhadap Palestina. Padahal kekuatan moral Palestina selama ini terletak pada kemampuannya melampaui batas etnis dan mazhab.
Menggeser Wacana dari Emosi ke Maslahat
Yang paling penting dari pernyataan para ulama itu adalah ajakan untuk menempatkan konflik dalam kerangka maslahat dan mafsadat, bukan dalam logika loyalitas buta. Perbedaan sikap terhadap perang tidak boleh berubah menjadi vonis keimanan.
Sikap ini mengandung pelajaran penting bagi publik Muslim: bahwa ijtihad politik adalah wilayah yang sah untuk berbeda, selama tetap terikat pada prinsip keadilan dan kemaslahatan umat.
Di tengah derasnya propaganda, disinformasi, dan mobilisasi emosi sektarian, pendekatan seperti ini justru menjadi jangkar moral yang menenangkan.
Menuju Politik yang Lebih Bermartabat
Pada akhirnya, pernyataan sikap ulama tersebut tidak menawarkan slogan heroik, melainkan sesuatu yang lebih sulit: disiplin moral. Menolak agresi siapa pun. Menolak pembunuhan sipil siapa pun. Menolak hegemoni siapa pun. Dan menolak sektarianisme yang merusak tubuh umat sendiri.
Dalam konteks Timur Tengah yang berada di persimpangan sejarah, pendekatan seperti inilah yang mungkin paling rasional dan paling islami sekaligus: bukan membela proyek negara tertentu, tetapi membela masa depan umat dari siklus kehancuran dan lingkaran kekerasan tanpa akhir.
Bagi Palestina, stabilitas kawasan yang adil dan bebas dari dominasi tunggal adalah prasyarat strategis harga mati. Tanpa itu, perjuangan mereka akan selalu terombang-ambing dalam tarik-menarik kekuatan besar.
Dan bagi umat Islam secara umum, menjaga kejernihan akal dan kebersihan hati di tengah perang narasi mungkin sama pentingnya dengan menghentikan perang itu sendiri.


0 Response to "Sikap ulama menimbang perang AS–Israel vs Iran"
Posting Komentar