Dari Singapura ke Indonesia, peta data center Asia Tenggara bergeser
Peta industri data center atau pusat data di Asia Tenggara mulai bergeser. Ketika Singapura merasionalisasi penambahan kapasitas data center dan Johor di Malaysia menghadapi tekanan pasokan listrik, Indonesia muncul sebagai salah satu tujuan limpahan ekspansi pusat data di kawasan.
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset terbarunya pada 21 Agustus 2026, menyebut Indonesia berpotensi menjadi third leg of regional data center spillover atau kaki ketiga limpahan pembangunan data center regional.
Kapasitas terpasang data center Indonesia tercatat sekitar 580 megawatt (MW) pada semester I 2026. Angka tersebut diproyeksikan melonjak.
“Riset pasar memproyeksikan kapasitas ini akan menjadi 3,5 gigawatt (GW) pada 2030, atau tumbuh dengan compound annual growth rate (CAGR) 56,7% sepanjang 2026-2030,” kata tim analis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya, dikutip Senin (24/8).
Pertumbuhan tersebut didorong meningkatnya kebutuhan infrastruktur komputasi awan (cloud computing) dan fasilitas yang memiliki kepadatan GPU tinggi untuk kebutuhan kecerdasan buatan alias AI. Pada saat yang sama, Singapura mulai merasionalisasi kapasitas baru melalui rezim DC-CFA, sedangkan Johor yang sebelumnya menjadi lokasi limpahan pertama dari Singapura mulai menghadapi keterbatasan listrik.
Indonesia Berpeluang Ambil Peran Lebih Besar
Perubahan tersebut membuat Indonesia memiliki peluang untuk mengambil peran lebih besar dalam rantai industri data center regional. Namun, peluang tersebut tidak tersebar merata di seluruh wilayah Indonesia.
BRI Danareksa mencatat Jakarta masih menjadi pusat utama data center Indonesia. Sekitar 55% kapasitas terpasang nasional masih berada di Jakarta.
Berikut pipeline data center Asia Tenggara pada semester I 2026 berdasarkan data Cushman & Wakefield yang dikutip dalam riset BRI Danareksa:
Singapura
Pasar utama: Singapura
Kapasitas data center yang sudah beroperasi: 1.043 MW
Kapasitas dalam pembangunan (under construction/U/C): 20 MW
Kapasitas yang masih direncanakan: 237 MW
Malaysia
Pasar utama: Johor
Kapasitas data center yang sudah beroperasi: 1.110 MW
Kapasitas dalam pembangunan: 602 MW
Kapasitas yang masih direncanakan: 3.088 MW
Indonesia
Pasar utama: Jakarta
Kapasitas data center yang sudah beroperasi: 322 MW
Kapasitas dalam pembangunan: 395 MW
Kapasitas yang masih direncanakan: 1.699 MW
Thailand
Pasar utama: Bangkok
Kapasitas data center yang sudah beroperasi: 134 MW
Kapasitas dalam pembangunan: 895 MW
Kapasitas yang masih direncanakan: 2.084 MW
Riset tersebut menyebutkan Jakarta lebih banyak ditopang permintaan domestik. Sementara itu, Batam diposisikan sebagai bagian dari limpahan data center regional, terutama karena kedekatannya dengan Singapura dan akses terhadap konektivitas kabel bawah laut.
Di Batam, 71% komposisi pasar data center merupakan hyperscale. Sebagian besar kapasitas tersebut dikembangkan oleh operator swasta dan asing. Beberapa pemain yang tercatat antara lain DayOne, BW Digital, Princeton Digital Group, Global Data Centre, dan Racks Central.
Bahkan, sejumlah proyek di Batam mulai diarahkan untuk memenuhi kebutuhan AI. DayOne, misalnya, memiliki rencana pembangunan fasilitas berkapasitas 450 MW di Kabil yang disebut berorientasi pada kebutuhan AI compute.


0 Response to "Dari Singapura ke Indonesia, peta data center Asia Tenggara bergeser"
Posting Komentar